Online casino ranking_European mainstream betting company_Texas Hold'em Download_Reliable sports betting platform_Live Baccarat Website

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Metode baccarat

KaOnline Gaming Forumlau mau jauh lagi juga biOnline Gaming ForumSa, bahkan mungkin saja sampai pOnline Gaming Forumergi keluar pulau (pastinya masih di negeri kita terOnline Gaming Forumcinta ini). Desa lokasi kuliah lapangan biasanya memiliki karakteristik seperti pedesaan, pesisir atau pegunungan.

Kamu sedikit keheranan sama teman kamu yang udah dianterin ke kamar mandi waktu malam-malam, tapi pintunya nggak ditutup (lhah keliatan dong?) hihihi. Ada juga kebiasaan unik temanmu yang kalau tidur suka bicara-bicara sendiri.

Kamu nggak menyangka akan mendapatkan curahan hati atau cerita-cerita kehidupan dari masyarakat di desa, baik yang menyenangkan maupun kepahitan hidup mereka. Sebagai mahasiswa yang katanya agent of change hal-hal seperti ini harusnya memberi informasi awal agar tergugah kesadaranmu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi warga desa!

Di desa kuliah lapangan, tidak menutup kemungkinan kamu akan menemukan beberapa fenomena sosial-budaya yang marak seperti adanya pernikahan dini, pendidikan yang tidak merata atau fasilitas kesehatan tidak memadai atau persoalan kerusakan lingkungan.

Kamu berasal dari Kota Malang, kuliah lapanganmu berada di salah satu desa di Kabupaten Malang. Saat di desa tersebut kamu menemukan kata berbeda dalam bahasa Jawa, seperti pada kisah di bawah ini: 

Warga lokal ini mungkin saja kamu temukan karena dia informanmu (orang yang memberi informasi/data) sewaktu penelitian, atau kamu akan diperkenalkan dan dijodoh-jodohkan dengan anak tetangga rumah tempatmu menginap. Dijodohkan dengan anak Pak Kades, remaja desa atau dengan mbak-mbak guru TK desa setempat. Memang jodoh siapa yang tahu ya? Jika tidak berjodoh, setidaknya kamu akan memiliki kontak dan kenalan baru setelah pulang dari desa penelitian.

Tugas-tugas dijurusan antropologi yang lebih banyak penelitian mengharuskan mahasiswanya untuk rajin pergi ke desa atau masyarakat untuk jalan-jalan cantik kuliah lapangan. Kalau kamu pernah menonton film Sokola Rimba, kisah Butet Manurung dalam film itu adalah salah satu kerja dari para antropolog. Simak nih, sekelumit pahit manis kehidupan mahasiswa antropologi yang menunaikan kuliah lapangan!

Nah, itu tadi sekelumit kisah dari para mahasiswa antropologi, si pejuang pensil dan buku monyet. Pahit manis kuliah lapangan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi anak-anak antropologi se Indonesia. Suatu hari nanti kisah-kisah unik dan berkesan ini dapat diceritakan kepada anak-cucu kelak di masa depan... ini kisah kuliah lapangan ala mahasiswa antropologi, mana kisah kuliah lapanganmu? 

Di kuliah lapangan, kegiatan catat-mencatat pun semakin menjadi-jadi. Bolpoin, pensil dan buku monyet (istilah untuk menyebut buku harian yang selalu dibawa kemana-mana) adalah senjata wajib yang harus dimiliki saat kamu pergi kuliah lapangan.  

Konon katanya, witing trisno jalaran soko kulino (baca: cinta tumbuh karena telah terbiasa). Mungkin karena kamu hidup selama beberapa waktu bersama temanmu (yang pasti berbeda suasananya dengan di kampus) tiba-tiba tumbuh benih-benih cinta diantara kalian. Dan jadilah kalian pasangan yang “jadian” setelah kegiatan kuliah lapangan. Kalau sudah cinta lokasi begini, apa bedanya kisah kuliah lapanganmu dengan sinetron FTV? 

Diantara kita mungkin memiliki sifat teman-teman “unik” yang super rajin, super higienis, super pemberani atau super gokil. Kamu mungkin nggak menyadari jika di desa penelitian, temanmu yang paling rajin sudah bangun pagi-pagi banget dan sudah menyapu halaman rumah pas kamu masih baru bangun.

Hah? Dilema? Kok bisa? Kamu merasa senang sekali karena kuliah lapangan sudah selesai dan sedih sekali karena harus berpisah dengan keramahan keluarga baru di desa.

Sebagai mahasiswa antropologi yang berjiwa peneliti sejati. Mereka harus tertantang untuk mencoba menanam padi sambil bertanya tentang pendapatannya, mengikuti acara tradisi dan keagamaan setempat, atau mungkin tergoda untuk mandi di sungai? 

Di momen kuliah penelitian lapangan ini, kamu akan merasakan kehidupan selayaknya ditayangan televisi Jika Aku Menj**i. Kamu bisa berkesempatan benar-benar mempraktekkan dan ikut mencoba kegiatan yang dilakukan orang-orang di desa tempatmu kuliah lapangan. Misal kamu meneliti tentang sistem pengetahuan lokal petani atau buruh tani perempuan.

Mereka inilah orang-orang yang sudah terlebih dahulu merasakan asam garam dan pahit manisnya kegiatan kuliah lapangan. Dosen tentu akan membimbingmu dan bahkan sesekali mengajari bagaimana proses penelitian itu sendiri. Nah, kapan lagi nih mendapat kuliah bersama dosen langsung dari tempat penelitian?. 

Tukang curhat? Kok bisa? Selama kuliah lapangan, para mahasiswa antropologi dituntut untuk rajin mencatat fieldnote (catatan lapangan). Nggak hanya dibangku kelas saja kita rajin mencatat.

*FYI, lepen adalah sungai

Pas lagi nyari data di rumah masyarakat, ceritanya kamu lagi dapat “panggilan alam”:

Welcome to the new life guys! Kuliah lapangan berlokasi di wilayah yang jauh dari “peradaban” kampus. Misal nih, kampusmu berada di kota. Nah, biasanya lokasi desa kuliah lapangan mahasiswa antropologi berada di kabupaten atau diluar kota. 

Nah, si mahasiswi mengira lepen adalah jeding (bahasa Jawa: kamar mandi), atau WC sederhana yang  seenggaknya kakus yang masih ada penutupnya. 

Mahasiswi antropologi            : Bu nyuwun sewu kulo bade teng wingking (bu permisi saya ingin ke belakang)

Jreng jreng jreng....(tiba-tiba nggak jadi meneruskan panggilan alam setelah melihat lepen)

Ini bagian paling menyenangkan dimasa-masa kuliah lapangan, karena disini kita nggak hanya mencari data-data penelitian tapi juga bisa sekaligus liburan.  Nah, desa lokasi kuliah lapangan pasti punya tempat-tempat yang memiliki keindahan alam atau bersejarah yang nggak boleh banget untuk dilewatkan!

Mahasiswi antropologi            : Nggih bu maturnuwun....

Ini yang paling penting, karena menyangkut tanggung jawab akademis sebagai mahasiswa antropologi yang harus mengumpulkan laporan kuliah lapangan (ceilah). Berhubung ini pindahan kamar kosan apalagi jalan-jalan cantik adalah kegiatan “mempelajari masyarakat dan kebudayaannya”, setiap mahasiswa akan mendapat topik penelitian yang berbeda-beda dari teman seangkatan.

Ibu di desa penelitian              : Nggih wonten teng lepen yo nduk (iya ada di lepen ya nduk: sebutan bagi anak perempuan)

Terkadang tempat ini sudah menjadi tempat wisata yang biasa dikunjungi atau bahkan tempat yang indah namun belum banyak diketahui orang luar desa. Pantai yang masih perawan, atau view pegunungan yang segar banget. Kalau sudah begini, semangat rasanya untuk mencari data sekaligus pergi berwisata! Asyik!. 

Karena apalah arti gadget tanpa koneksi wifi dan pulsa paketan. Jangankan wifi, masih ada sinyal aja udah girang! Tapi jangan salah, dijaman facebook ini, sudah ada desa yang balai desanya dilengkapi dengan koneksi wifi. Canggih nggak tuh...

Misal, kamu mendapat tema tentang kesenian. Selama di desa penelitian itu tugasmu adalah mencari data dan mempelajari tentang kesenian, tapi nggak menutup kemungkinan juga kita mengetahui dan memperoleh data tentang mata pencaharian.  

Nah, segudang keunikan ini bahkan bisa saja baru kamu temukan setelah mengikuti kegiatan kuliah lapangan. Meskipun kebiasaan mereka ini nggak bakal dipahami, tapi dijamin deh teman-teman yang langka ini bisa membuat kenangan dan ingatan tersendiri bagi kita.

Percaya atau tidak, keluarga baru dan masyarakat yang kamu temui merasa sangat senang karena rumah dan desanya udah dikunjungi oleh sekelompok mahasiswa yang “kepo”. Jangan lupa untuk mengingat nama dan menyimpan kontak keluarga barumu di desa. Siapa tahu kalian ingin berkunjung kembali atau sekadar menelpon mereka diwaktu lebaran.

Ini nih seninya kuliah lapangan ala mahasiswa antropologi! Nggak terbayang sebelumnya rasanya hidup dilingkungan baru, yang bisa dibilang punya kebudayaan berbeda dengan kehidupan dan kebiasaan kita. Misal nih, kita nggak mungkin seenaknya bangun kesiangan (biasanya nih yang hobi begadang tugas) atau betah banget seharian nggak mandi (kalau ini mungkin banget terjadi pas kuliah lapangan) hehehe.  

Dalam beberapa waktu kamu akan merasakan menjadi manusia seutuhnya. Kamu benar-benar merasakan quality time bersama teman dan keluarga barumu di desa karena dijamin gawai (gadget) kamu nggak bakal berarti apa-apa.

Kuliah lapangan udah nggak asing lagi bagi anak-anak jurusan ilmu sosial-alam yang berkaitan dengan kehidupan manusia, khususnya dijurusan antropologi. Antropologi itu apa ya? Ilmu gali-gali batu? Ilmu bintang-bintang? Eitss…bukan keles! Antropologi adalah jurusan ilmu sosial yang mempelajari tentang manusia dan budayanya. Nah, dijurusan antropologi kita bisa belajar kebudayaan  Indonesia dan luar negeri nggak hanya didalam ruang kelas.